Jayapura, Jubi Jokowi memberikan grasi pada lima
tahanan politik (Tapol) Papua di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura.
Usai mengunjungi pasar Phara Sentani dan
meresmikan gedung Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Presiden Indonesia,
Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi LP Abepura untuk memberikan grasi pada lima
tahanan politik Papua. Kelima tahanan politik tersebut adalah Linus Hiel Hiluka
dan Kimanus Henda (keduanya divonis 19 tahun 10 bulan), Jefrai Murib dan
Numbungga Telenggen (keduanya divonis seumur hidup), serta Apotnalogolik
Lokobal (vonis 20 tahun). Jefrai Murib ditahan di LP Abepura, Apotnalogolik
Lokobal dan Numbungga Telenggen ditahan di LP Biak dan Kimanus Wenda serta
Linus Hiel Hiluka ditahan di LP Nabire. Kelimanya dipenjara karena tuduhan
pembobolan gudang senjata di Wamena pada tahun 2003.
Dihadapan wartawan, saat memberikan
surat grasi kepada kelima tahanan politik ini, Jokowi mengatakan pemberian
grasi pada lima tahanan politik ini adalah langkah awal,
“Sesudah ini akan diupayakan pembebasan para tahanan lain di daerah lain juga.
Ada 90 yang masih harus diproses,” kata Presiden Jokowi, Sabtu (9/5/2015)
Saat ditanya mengenai Filep Karma yang
sebelumnya direncanakan juga menerima pembebasaan ini, Jokowi mengatakan ia
menginginkan grasi yang diterima oleh Filep Karma sementara Filep Karma
menginginkan Amnesti.
“Benar bahwa saya mengusahakan
pembebasan Filep Karma. Namun, saya maunya proses grasi. Sedangkan dia maunya
amnesti. Ini rumit karena harus bicara dengan DPR. Saya nggak tahu apakah DPR
akan setuju,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi mengatakan proses
pemberian Grasi ini sudah berlangsung cukup lama, sejak bulan Desember tahun
lalu.
Filep Karma, sehari sebelumnya, kepada
Jubi mengatakan ia tidak pernah meminta diberikan amnesti atau grasi.
“Kalau presiden mau memberikan amnesti, ya terima kasih. Tapi kami tidak akan
pernah meminta atau memohon itu. Apalagi membuat surat untuk permohonan
pembebasan,” kata Filep Karma.
Filep Karma juga mengakui bahwa ia telah
bertemu dengan utusan Presiden Jokowi untuk membicarakan pembebasannya ini
dalam dua minggu terakhir. Namun sekali lagi ia menegaskan tak pernah meminta
atau memohon.
“Saya diminta untuk membuat surat. Saya tidak tahu juga surat untuk apa. Tapi
saya tak akan pernah membuat surat untuk meminta atau memohon pembebasan saya,”
tegas Filep Karma.
Bagi Filep Karma yang harus menjalani
hukuman 15 tahun karena menaikkan Bendera Bintang Kejora di Universitas
cenderawasih pada tahun 2004, pembebasan dalam bentuk apapun tak akan menjamin
ia akan bebas seumur hidupnya.
“Kalau saya bebas terus saya naikkan Bintang Kejora lagi, saya akan ditangkap
lagi atau tidak? Tidak ada jaminan,” ujar Filep Karma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar